Senin, 10 Juli 2017

NSDC 2017; New Phase to My Debating Cycle

Hello, welcome back to my blog! :) 

Kali ini aku mau berbagi pengalamanku selama terjun di dunia debat. Mulai dari awal masuk sampai saat ini.
***

Jadi, hari itu merupakan hari kesekian masa orientasi siswa baru di SMA Negeri 2 Amlapura dengan agenda parade ekstrakurikuler. Sejak pagi, aula dan lingkungan sekitarnya sudah di-setting untuk dijadikan tempat parade ekstrakurikuler. Setelah pemberian materi pada hari itu selesai, semua peserta MOS diminta untuk berkumpul di aula. OSIS pun mulai mempresentasikan ekstrakurikuler yang mereka pegang. Mulai dari kasi satu sampai kasi sepuluh. Selama presentasi, ada beberapa ekstrakurikuler yang menarik perhatianku, yaitu jurnalistik dan debat. Setelah presentasi berakhir, kita mendatangi stand-stand ekstrakurikuler yang mau kita ikuti dan saat itu benar-benar hectic and crowded. Setelah berdesak-desakan, akhirnya aku berhasil daftarin diriku di ekstrakurikuler debat dan jurnalistik.

Kegiatanku di ekstra debat pun dimulai saat jam belajar sudah efektif. Selama ekstra, aku dan peserta kelas X lainnya cuma nonton kelas XI dan XII match. Selama berkali-kali pertemuan kita nonton match terus dan itu seru banget. Tiba-tiba pada suatu hari, aku enggak ekstra karena sesuatu hal yang aku lupa itu apa. Terus temenku yang ekstra tiba-tiba ngasi tau kalau minggu depan kita harus bawain argumen berdasarkan motion yang sudah dikasi tau. Aku lupa apa kalimat benernya, intinya tentang melarang siswa bawa motor ke sekolah. Aku sih santai aja, nganggep masih lama. Tapi ternyata, tiba-tiba
hari itu tiba. Aku belum bikin sama sekali. Satu per satu maju dan aku masih sibuk mikirin apa yang mau aku bilang. Tapi akhirnya sih jadi, aku maju, dan selesai. Kalau diliat-liat sekarang, argumennya jelek banget, hahaha.

Lomba debat pertamaku adalah National School Debating Championship 2016 yang diadain sama Pemerintah Provinsi Bali di bulan April 2016. Lombanya selama 3 hari bertempat di 'Hotel' Batukaru. Waktu itu, aku satu-satunya kelas X di tim Karangasem. Dua orang partner timku adalah Kak Rianti dan Kak Dian Puspita. Aku deg-degan sih mau ikutnya soalnya ini lomba perdana. Untuk lomba ini ada dua jenis motion, yaitu prepared dan impromptu motion.



Selama persiapan, aku sama Kak Rianti ke rumah Mrs. DR setiap hari untuk diskusi gitu. Diskusinya bener-bener lama karena setiap kita dapat argumen, pasti aja langsung kita sanggah lagi. Gitu aja terus sampai malam, akhirnya pulang. Besoknya lagi kayak gitu sampai H-1. Akhirnya semua argumen yang pernah melintas di pikiran kita tulis.

***
Hari pertama cuma diisi sama pembukaan dan technical meeting dari sore sampai menjelang malam. Lomba dimulai keesokan harinya.


Day 1. Untuk match pertama, dilakukan undian untuk menentukan lawan dan posisi. Waktu itu Karangasem lawan Tabanan, which is the represented by Smasta's team, Kak Nadya Yasmin, Kak Putri, dan Kak Wiandari (Alm.). Aku sudah pernah nonton mereka sebelumnya dan bener-bener keren banget. Udah expert banget lah pokoknya. Untuk round 1, motion-nya adalah THW ban all forms of election-related polls, such as election forecasts and public opinion polls. Untuk motion ini, kita belum terlalu nyiapin, tapi sudah ada bahannya. Jadi, selama case building kita nambah-nambahin argumen gitu. 30 menit terasa bener-bener cepet dan match round 1 dimulai. Oh iya, posisi Karangasem saat itu adalah affirmative team. Setelah second speaker dari Tabanan selesai, aku maju. Okay, here we go. Deg-degan karena ini bener-bener pertama kalinya aku ngomong saat lomba. Akhirnya aku selesai dalam waktu 4 menit. Bener-bener singkat, but not so bad for a beginner. Surprisingly, Karangasem menang di babak ini dengan close decision. Setelah semua kumpul di Debaters' Hall, ditampilkan lah posisi sementara dan kita--Karangasem--berada di posisi kedua! Very unexpected and unbelievable. 

Second match kita ngelawan tim Bangli yang ada di posisi pertama dan anggota mereka itu kelas X semua. Dalam hati aku agak underestimate mereka like seriously, dude. They are just a tenth grader students. Tanpa sadar kalau aku sendiri juga masih kelas X... awkward.. Oke, balik lagi. Kali ini motion yang dipakai adalah impromptu motion yang aku lupa gimana bunyinya tapi intinya tentang tax amnesty. Aku bener-bener enggak tau tax amnesty itu gimana dan saat itu juga belum terlalu heboh tentang tax amnesty. Baru kayak terkuak kasus Panama Papers itu aja. Jadi aku bingung. Kak Rianti lumayan tau, tapi dia juga bingung. Akhirnya setelah dengerin penjelasan singkat dari Kak Rianti, kita mulai bikin argumen. Entah gimana, setelah nganggap tim Bangli itu masih kelas X, aku ngerasa lebih percaya diri, mungkin sombong lebih tepatnya. Tapi seenggaknya itu ngasi dampak positif di mana aku jadi lebih confident dalam menyampaikan argumen.

Tabulasi nilai kedua, kita naik jadi peringkat 1 dengan 2 victory points. Untuk match ketiga, kita ngelawan SMAN Bali Mandara yang mewakili SMAN Bali Mandara itu sendiri, bukan Kabupaten Buleleng. Waktu ngeliat mereka, aku mikir, "Waduh, lawan Bali Mandara. Pasti hebat-hebat dan pinter-pinter." dan apa yang terjadi? Aku jadi grogi banget banget banget saat membawakan argumen dari prepared motion THW force companies to use a blind system is assessing applicants' resume for job yang sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya. Walaupun begitu, kita menang lagi dan tetap di peringkat 1.

Match hari pertama berakhir dengan hasil yang cukup mengejutkan. Untuk pertama kalinya ada tim yang mendapatkan 3 victory points, which is Karangasem. Hari kedua itu ada final dan grand final. Tim yang akan bertanding adalah tim Karangasem, Denpasar, Bali Mandara, dan Tabanan. Kita yang di peringkat 1 akan melawan peringkat 4, yaitu Denpasar. Bali Mandara lawan Tabanan. Malam itu kita masih deg-degan dan enggak bisa tidur dengan tenang. Takut ini, takut itu, pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan. Kak Rianti udah misahin diri dari aku dan Kak Dian untuk nyari-nyari berita terkini. Aku sama Kak Dian nonton berita yang siapa tau akan membantu but we ended up browsing the Prime Minister of Canada. Kok bisa? Waktu itu di TV ada berita tentang kasus Abu Sayyaf dan salah satu warga negara Kanada itu ada yang terbunuh. Perdana menterinya kayak berpidato gitu, ganteng. Jadi kita penasaran, lalu cari informasi. Merasa tidak berguna, aku pun ngeliat Kak Rianti. Ternyata dia sudah tidur..

Final round. Entah kenapa aku ngerasa hawanya itu kayak malas gitu. Kita kayak gak niat padahal ini udah final round. Motion-nya pun prepared motion (THW give less punishment to the poor for petty crimes). Kak Rianti dan Kak Dian keliatan badmood. Aku jadi males. Aku tau kalau kayak gini hasilnya pasti enggak bagus. But somehow I made no effort on that time. Jadi hasilnya ya seperti ekspektasiku. Jelek. Kita kalah lawan Denpasar yang ngomongnya kayak gak pakai titik koma dan aku inget first speaker-nya itu menang FLS2N story telling waktu SMP. Jadi kita gagal meraih juara 1 dan 2 karena ada di posisi 4. Jadi kita lawan yang di posisi 3, yaitu Bali Mandara untuk memperebutkan juara 3. 

Grand final round. Karangasem vs Bali Mandara. Denpasar vs Tabanan. Motion yang dipakai beda antara yang memperebutkan juara 3 dan juara 1. Karangasem vs Bali Mandara dikasi prepared motion yang gampang banget dan aneh aja dikeluarinnya pas udah grand final, yaitu As Indonesia, this house regrets to join ASEAN Economic Community. Very easy and well prepared. Terbukti aja aku ngomong sampai 7 menit, begitu juga dengan yang lain, bahkan Kak Rianti sampai 8 menit. Kita bener-bener yakin sama diri kita sendiri bakal dapet juara. Mrs. Dayu-pembina kita-sampai bilang, "Feonie kayak habis BAB setelah ditahan 3 hari. Lega sekali keliatannya."

Pengumuman. Setelah penutupan resmi, pengumuman pun dimulai. Kita bertiga sudah menyatukan tangan dan saling pegangan. Juara 3 atau tidak sama sekali. Entah kenapa waktu itu aku rasanya takut banget, sedih gitu. Eh ternyata ada maksud di balik itu. Kita enggak dapat juara. Iya, enggak dapat. Juara 3 adalah Bali Mandara, juara 2 Tabanan, dan juara 1 Denpasar. Very unexpected. Aku kecewa banget karena di babak terakhir itu kita bener-bener confident. Setelah acara selesai, kita boleh minta verbal adjudication ke salah satu atau semua adjudicator(s)-nya. Kemudian kita mendatangi salah satu adjudicator yang kita anggap meyakinkan. Namun hasilnya mengecewakan. She said that we didn't explain about the pros if Indonesia joins AEC,we didn't give enough fact, we didn't rebut the opposite team, etc. when the fact is we did what she said we didn't do. Very disappointing. 

Setelah lomba pertama yang cukup mengecewakan, aku tetep ikut lomba-lomba berikutnya dan selalu aja aku nemuin ada ketidakadilan dalam lomba. Entah itu menurutku aja atau memang bener-bener faktanya begitu. Tapi ada satu lomba yang aku agak ragu gitu sama hasilnya. Aku liat semua nilainya dan aku kelompokin tiap ruangan, mungkin agak susah bagi kalian untuk ngertiin tapi ya gitu lah intinya. Hasilnya, ruanganku itu batas atas nilainya itu rendah banget. Mau menang berapa kali pun, nilai yang didapat itu setara dengan nilai terendah di ruang lain. Iya sih ruangannya diacak terus sesuai undian, tapi apesnya, kita selalu dapat di ruang itu. 

Sejak NSDC 2016, aku ikut beberapa lomba debat yang selalu aja ada keanehannya, menurutku. Seperti lomba debat ilmiah yang diadain sama HMJ Analis Kimia Undiksha. Waktu itu aku satu tim sama Kak Rianti dan Yuni. Kak Rianti kenal sama salah satu juri dari lomba itu di mana dia sama sekali enggak punya pengalaman debat karena dia adalah anak pramuka. Entah kenapa bisa dijadikan juri. Lomba kedua itu lomba debat bahasa Indonesia yang diadain sama HMJ di Undiksha juga, kayaknya FIBnya. Aku lupa. Keanehan di lomba ini adalah kejadian di paragraf atas itu. Lomba selanjutnya yang aku ikutin adalah lomba debat bahasa Inggris di FIB UNUD. Aku malas nyeritain yang ini karena lombanya cukup adil dan sesuai kaidah.

Lomba terakhir yang aku ikutin adalah NSDC 2017. Sebenarnya aku malas ikut karena masih keinget masa lalu, hehe. Tapi karena udah enggak ada lagi yang mau, jadi aku ikut. Lagi dua orang masih belum tau. Aku ngajak Yuni dan Cinlung. Setiap lomba selalu tim baru jadi chemistry-nya kurang di antara kita. Untuk NSDC 2017 ini, kita sama sekali enggak dapet prepared motion. Kita kira ada cuma hilang karena surat undangannya aja terlambat dan nyaris hilang. Setelah nelfon panitia, ternyata benar. Semuanya impromptu. Persiapannya lumayan santai dan agak ogah-ogahan (aku sih). Seperti biasa, lomba 3 hari. Nginep lagi di 'Hotel' Batukaru. 

Ternyata sistem yang dipakai tahun ini berbeda. Biasanya hari pertama pembukaan aja, tapi tahun ini hari pertama langsung match. Enggak ada final-final an. Pokoknya sama. Semua match 4 kali. Hari pertama 2 kali, hari kedua 2 kali, hari ketiga penutupan. 

Hari pertama. Setelah pembukaan dan TM singkat, kita langsung ke SDN 1 Ubung untuk lomba. We have no idea about the motion tapi tetap santai. Setelah pengundian, kita lawan Tabanan. Smasta lagi. Tapi timnya udah beda. Motion-nya adalah... THBT all political campaign should be fully funded by the government. Kali ini aku dapet posisi baru, yaitu sebagai first speaker karena Yuni dan Cinlung enggak mau. Yaudah aku jadi first speaker aja. Aku ngerasa debat kali ini udah lebih berbobot dibandingkan lomba-lomba sebelumnya. Argumen lebih high class. Tapi sayangnya kalah he he he. Setelah babak pertama, kita berada di peringkat 7. Selanjutnya lawan Bangli. Sepertinya tim yang sama dengan tahun lalu. Motion-nya adalah THW fine parents whose children are over obese dan kita posisinya positif. Walaupun hari sudah gelap, aku tetep semangat karena mereka terlihat kurang ada perlawanan he he he. Hasilnya belum keluar hari ini.

Hari kedua. Sebelum pertandingan dimulai, ditampilkan posisi sementara. Kita naik satu peringkat jadi peringkat 6 melawan tim Buleleng dengan motion THBT the fight against ISIS should only be done by the middle east country dan posisi negatif. Tim Buleleng cukup kuat. Ralat, kuat. Tapi akhirnya kita menang dengan very very close decision dan margin 0.5. lol. 

LAST ROUND. Kita peringkat 4! Artinya itu harus ngelawan peringkat 3, yaitu Swing Team--tim tambahan sebagai 'penggenap'--yang isinya anak-anak dari SMAN 4 Denpasar. Nyali pun menciut. Motion terakhir adalah..... In the area of lacking any resources, this house should develop sex tourism dan posisi kita adalah negatif. Entah karena pengaruh motion atau lawan, saat case building aku blank banget. Mikirin background sama definition pun bingung, apalagi mikirin solusinya. Menit-menit awal kita bengong dan sensi satu sama lain. Tapi lama-lama otak mulai bekerja. Argumen selesai, pertandingan dimulai. I admit that the Swing Team is very very very good. Keren banget, hampir fangirling tapi akhirnya sadar kalau mereka itu lawan. Debat terakhir begitu hidup. PoI yang disampaikan banyak banget sampai rasanya enggak sempet ngejelasin argumen karena sibuk ngejawabin pertanyaan yang muncul terus. Selesai. Akhirnya debat selesai. Apapun hasilnya, aku terima aja. Pengumumannya masih besok pagi. Artinya dari siang sampai besok pagi aku free. Yaudah, daripada lama-lama di 'hotel' aku kabur aja. Aku minta dijemput sama Ce Shinta--sepupuku. Aku sekalian ngajak Yuni juga. Kita sembunyi-sembunyi bawa koper dan masuk mobil. Pulang deh tapi enggak ke Karangasem. Untuk malam ini aku tidur di rumah yang di Citraland. Lumayan deket lah sama 'hotel'. Malam itu, kita bertiga ke Level 21 dan nonton The Guys. Lupakan lomba sejenak, mari bersantai.

Pengumuman. Penutupan dimulai sekitar jam 12 siang. Aku dengan percaya dirinya duduk di kursi paling depan. Entah darimana datangnya kepercayaan diri ini. Yuni sudah minta pindah ke belakang. Tapi aku bilang, duduk di depan adalah langkah awal untuk menjadi yang terdepan. Tapi setelah acara mulai, aku jadi pingin pindah ke belakang, hahaha. Akhirnya pengumuman tiba. Dimulai dari juara 3. Aku berharap banget dapet juara 3. Tapi ternyata Tabanan yang dapat juara 3. Hilang sudah harapan. Tabanan aja juara 3, apa kabar Karangasem? Tapi takdir berkata lain. Ternyata kita keluar sebagai juara 2! Juara 1 nya adalah tidak lain dan tidak bukan... DENPASAR. absolute winner all the time sih sepertinya. Aku gak peduli yang penting aku juara 2.

Akhirnya, setelah jatuh berkali-kali, ditindas, Karangasem bisa dapat juara di NSDC. Enggak tau deh kapan terakhir kalinya dapet, kayaknya udah bertahun-tahun lalu atau... belum pernah? 

Intinya, dari sini aku bener-bener bisa memaknai kalimat don't give up yang terdengar sederhana sekali tapi sulit untuk dilakukan. Berkali-kali aku bilang, "Ini lomba debat terakhirku," tapi ujung-ujungnya aku ikut lagi dan lagi. Sempet kecewa berat dan capek karena subjektivitas yang terjadi, tapi tetep lanjut lagi dan akhirnya bisa dapet juara untuk pertama kalinya. 

OH IYA! SELAIN JUARA 2, AKU MASUK TOP 4 BEST SPEAKER DI BALI SETELAH TIM DENPASAR. WOW!


***
Present. Aku tau entri ini bener-bener telat karena lombanya bulan April dan aku baru selesai nulis bulan Juli. Padahal mulai nulisnya udah dari bulan April. Tapi karena males, akhirnya aku tunda. Ini pun aku selesaikan karena mau nulis tentang OSN. 

Sorry for the super long post. I've tried my best to write this as short as I can but it turned out like this. For me this is not a detailed story and I really want to explain more. Meanwhile I don't want you to get bored with my posts so I decided to write a short--but long--one. 

See you!


***
Oh iya, selain ikut serta dalam lomba-lomba debat, aku juga pernah jadi penyelenggara lomba debat di sekolah. Event ini aku adain waktu ulang tahun sekolah dan kelihatannya lebih berat dari lomba-lomba debat yang penah aku ikutin. Lomba ini aku wajibin untuk seluruh kelas X dan XI yang jumlahnya 21 kelas. 21 x 3 = 63 orang. Ngumpulin 63 orang itu susah banget dan banyak yang kabur gak mau ikut dengan banyak alasan. Sebelum lomba juga aku yang nyiapin. Bikin proposal pengajuan lomba sama pelatihannya, bikin pamflet, dan semuanya. Nentuin sistem yang mau dipakai, aturan, babak yang ada juga ribet banget. Banyak pertimbangan dan masalah waktu serta dana. Tapi akhirnya acara berjalan lancar walaupun banyak yang walk out dengan berbagai alasan.
Proposal pengajuan acara
Pamflet yang ditempel di pojok-pojok sekolah

Lembar penilaian untuk juri

Print out materi pengenalan dan pelatihan awal

Prepared motion by Kak Rianti

EXTRA! 
Kali ini bener-bener yang terakhir deh. Aku mau ngasi liat tentang caraku nyusun dan nulis argumen.  Cara orang beda-beda dan caraku terbilang kayak pemula karena aku tulis kalimatnya semua. Pernah nyoba nulis poin-poinnya, tapi sering lupa. Jadi aku tulis semua, tapi nanti pas bawain, pasti ada aja yang aku tambah atau kurangin. Tergantung kondisi saat itu aja sih.. 

Ini waktu awal-awal. Masih sangat rapi dan niat :v

Ketika santai kemudian pembina bilang waktu tinggal 5 menit

Lomba sebentar lagi, jadi print materi dulu


Enggak ngerti lagi ini materi atau contekan, kecil banget
Ketika tinta hitam sudah mulai habis


Ketika bingung ini argumen dari sudut pandang apa


Sudah pasrah, tidak sanggup menulis






Match time. Kadang tulisan sendiri gak kebaca....




1 komentar:

  1. Hi! I joined it too. :)
    The representative of Klungkung Regency....😂

    BalasHapus