Thursday, February 1, 2018

Kebumian? - Chapter 2

Hello!
Di post kali ini, aku bakal ngelanjutin kisah cintaku bersama si K. Kebumian, hahaha. Jadi, di postingan sebelumnya, aku baru menceritakan pengalamanku sampai di Geosphere Competition VII dan sekarang akan aku lanjutkan.

Jadi, setelah Geosphere Competition VII, aku kembaliin semua buku Kebumian yang aku pinjam. Bener-bener semuanya dan aku nggak ada rencana untuk ikut lomba atau apapun yang berhubungan sama Kebumian lagi. Bukan karena kenapa, aku cuma males aja. Hehehe. Penyakit satu ini memang agak susah hilangnya.

Tapi, di penghujung tahun 2017, akhirnya hubunganku dengan Kebumian kembali membaik. Aku mulai menghubungi dia, menanyakan kabarnya, dan mencoba untuk mengerti dia lagi. Ya, gak gitu juga sih. Jadi, mulai bulan Oktober, sekolah mulai mendata lagi untuk calon peserta OSK 2017. Waktu itu-mungkin-aku yang pertama mendaftarkan diri lagi sebagai calon peserta OSK Kebumian. Entah kenapa, semangatku kembali lagi. Aku sudah memikirkan segala macam strategi belajar, cara bagi waktu, dan sebagainya. Apakah berjalan dengan lancar? Lihat saja nanti. Sebenarnya tujuan utamaku mau ikut OSK lagi adalah....... pingin masuk majalah sekolah. Kenapa? Ya pingin lah. 2 tahun berturut-turut aku masukkin foto orang-orang ke majalah, masa di tahun terakhirku di SMA, aku nggak ada masuk majalah sama sekali. Kenapa aku milih cara ini untuk masuk majalah? Ya karena di majalah sekolah itu ada satu rubrik khusus untuk profil OSK--isinya anak-anak yang berhasil dapet juara di OSK. Alasan sesederhana itu bisa bikin aku bener-bener semangat untuk belajar Kebumian lagi, hahaha.

Bulan Oktober sampai Desember, mosi belum terlalu efektif. Baru beberapa bidang aja yang mulai pembinaan. Kebumian? Enggak usah ditanya. Belum mulai, lah. Mosi pun mulai efektif sejak bulan Januari. Pembinaan mulai diadakan sepulang sekolah. Jangan tanya gimana progress dari Kebumian. Masih jalan di tempat. Keseruan makin terasa 2 minggu sebelum OSK. Aku lupa tanggal berapa tepatnya kita OSK. Tapi yang jelas waktu itu tuh masih jaman kakak kelasnya ujian gitu. Nah, 2 minggu sebelum OSK, kita semua--para peserta pembinaan--dikasi dispensasi untuk belajar mandiri di ruang TRRC. Di TRRC itu enak banget. Tempatnya luas, ber-AC, tenang. Gitu sih ekspektasinya. Tapi, setelah kita semua digabung, AC pun serasa nggak ada. Sempit dan ribut. Sampai banyak yang pindah tempat ke perpustakaan atau lab komputer. Waktu itu masih ramai karena belum seleksi. Tiap bidang masih ada sekitar 5-8 orang bahkan ada yang lebih, sedangkan kuota untuk SMAN 2 Amlapura itu cuma 3 orang dan biasanya kita nyiapin 1 untuk cadangan. Kebumian gimana? Ya sudah pas 4 orang dong. Untuk kelas 11nya, ada aku dan Adinda. Kita aja yang bertahan. Untuk kelas 10nya, aku kaget. Kenapa peminatnya sedikit? Kenapa bisa pas 2 aja? Setelah aku tanya ke mereka, ternyata pembinanya sudah sempet ngumpulin semua anak kelas 10 yang milih Kebumian. Kemudian ibu pembina bertanya, "Siapa yang siap untuk maju ke OSK? 2 orang saja." Lalu Radita dan Satwika angkat tangan dan terpilihlah mereka sebagai perwakilan SMA Negeri 2 Amlapura di OSK 2017 bidang Kebumian. Simpel, kan?

OSK - MARET 2017
Bener gak sih OSK itu Maret? Aku lupa. Intinya, waktu OSK, aku datang ke sekolah dengan kondisi kaki keseleo dan dililit pakai entah itu apa namanya. Jalan pun susah dan waktu itu aku maksain diri untuk pakai sepatu sekolah. Parahnya lagi, ruang tempatku lomba itu di kelas paling Selatan lantai 2. Nice. Syukurnya aku bisa ngerjain soal dengan baik. Baik? Hahaha. Aku bahkan cuma bisa jawab nggak lebih dari setengah jumlah soal keseluruhan. Waktu itu aku bener-bener memperhitungkan jumlah salah dan benar, memperkirakan skor akhir yang bakal aku dapet. Beruntung banget aku tertolong sama beberapa soal Fisika Planet sederhana. Jadi cuma pakai satu rumus Hukum Kepler 3 dan sedikit pengembangan, beberapa soal terlewati. 150 menit pun berlalu. Tidak selama yang aku prediksi. Setelah tes, aku ngumpul sama temen-temen. Yang lain pada cerita-cerita tentang tesnya sedangkan aku cuma dengerin. Aku gak suka ngebahas tes kalau udah selesai lomba. Nanti ketahuan banyak salah, hahaha.

Aku nggak tau menau tentang pengumuman OSK. Gimana sistematika penyampaiannya, aku juga nggak tau. Maklum aja, aku newbie di dunia ini. Sampai bulan April, belum ada informasi apapun tentang OSK. Tapi beberapa kali ada desas-desus kalau Smanda nyapu bersih juara 1, 2, 3 di dua bidang. Aku sama Yuni pun tebak-tebakkan kira-kira bidang apa itu. Kita nebaknya Matematika sama Fisika. Berhari-hari kita dihantui sama rasa penasaran hahaha.

Suatu hari di pertengahan bulan April, aku inget sekali waktu itu sekolah enggak efektif. Aku pulang sekitar jam 9 atau 10 pagi gitu. Terus aku main. Main apa? Slime. Yes, I love playing slime. Kalau aku lagi main slime, tanganku kan kotor tuh. Jadi aku sama sekali nggak megang HP. Terus, mami ngambil HPku karena HPku bunyi terus. Banyak ada notifications masuk. Terus aku cuci tangan dan aku baca Line yang masuk satu-satu. Aku kaget. Di preview-nya, semua pada ngucapin selamat. Aku bingung kan. Habis main slime kok diucapin selamat. Sampai salah satu guruku juga ngucapin selamat. Grup kelas pun ramai banget. Terus aku buka deh satu per satu. TERNYATA PENGUMUMAN OSK SUDAH KELUAR! And guess what... I got
the first place! Aku seneng banget walaupun nilai enggak banget, wkwkwk. Aku lihat bidang-bidang lainnya dan wow. Juara 1 disapu bersih sama sekolahku. Pertama kali dalam sejarah SMA Negeri 2 Amlapura nyapu bersih peringkat 1 OSK dan 2 bidang yang nyapu bersih juara 1, 2, 3 ternyata Biologi sama Ekonomi. Wow, very unexpected.
Pengumuman OSK Karangasem
Juara 1 tiap bidang OSK Karangasem
(Kanan ke kiri) Mang Darma - Fisika, Ary- Komputer, Karuni - Biologi, Feonie - Kebumian, Yuni - Ekonomi, Ratna - Geografi, Sadhu - Matematika, Oka Susena - Astronomi, Iin - Kimia.

Jadi, total anak Smanda yang lolos ke OSP ada 17 orang. Mungkin ini jumlah terbanyak dalam sejarah. OSP bakal diadain tanggal 8-9 Mei 2017. Masih ada waktu sekitar 1 bulan untuk mempersiapkan diri (rencananya sih gitu hehehe).


Geosphere Competition VIII - April & Mei 2017
Di akhir bulan April, tepatnya tanggal 27 April 2017, aku kembali ikut Geosphere Competition yang diadain sama Undiksha. Untuk tahun ini, penyisihannya diadain di MAN Amlapura. Beberapa hari sebelum hari H seleksi rayon, aku enggak belajar sama sekali. Berbekal ilmu yang masih (lupa lupa)ingat, aku ikut seleksi tingkat rayon untuk GC VIII. Tapi, entah keajaiban atau apa, ternyata peserta Kebumian cuma 4 orang. Sedangkan kuota untuk Rayon Karangasem adalah 5 orang. Itu artinya, mau sekecil apapun nilai kita di seleksi ini, bakal tetep lolos ke semi final tanggal 6 Mei nanti. Seneng? Banget. Tapi walaupun sudah pasti lolos, aku tetep jawab semaksimal mungkin.

Kalau tahun lalu aku bener-bener nungguin pengumumannya, tahun ini aku bahkan gak tau pengumumannya dishare di mana. Cuma nunggu surat undagan ke sekolah dan berangkat ke Singaraja. Semifinalnya diadain tanggal 6 Mei 2017 di Undiksha langsung. Yang lolos lumayan banyak. Untuk Kebumian, semua lolos (Aku, Adinda, Radita, dan Satwika). Untuk Geografi, yang lolos ada Dika, Ferbilia, Dek Win, Ratna. Aku enggak terlalu deket sama mereka semua. Tapi seiring berjalannya waktu, kita jadi deket wkwkwk.

Seperti biasa, semi finalnya tes tulis yang isinya pilihan ganda dan soal esai. Dari pengalaman tahun lalu, soal semi final GC itu enggak terlalu susah. Justru gampang. Tahun ini juga sama. Enggak terlalu susah, tapi tetep aja ada soal-soal yang aku nggak tau jawabannya sama sekali. Bedanya, tahun ini aku bisa jawab esainya. Tahun lalu tuh aku jawab cuma satu atau dua soal. Tahun ini lumayan banyak. Kayaknya keisi semua jawabannya tapi kebenarannya, aku enggak tau. Yang penting isi aja dulu, wkwkwk.

Setelah babak semi final selesai, kita semua dapat makan siang. Aku sama temen-temen balik lagi ke ruangan tempat pembukaan untuk nunggu pengumuman final dan makan bersama di sana. Setelah cukup lama nunggu, pengumuman pun keluar. Pertama, yang diumumin adalah bidang Geografi. Aku sih nggak terlalu berharap soalnya tahun lalu dari sekolahku cuma 1 orang yang lolos ke final. Tapi, tiba-tiba di urutan kedua peserta yang lolos ke final di bidang geografi, nama salah satu adik kelasku disebut! Dika! Baru kelas X tapi sudah bisa lolos ke final, diurutan kedua lagi! Hebat banget! Dengan lolosnya Dika ke final, bikin aku naruh sedikit harapan untuk lolos. Tapi, nggak mau terlalu berharap juga, sih. Kalau nggak lolos kan, sakit :") Terus, setelah Dika, aku kira Ratna bakal lolos, soalnya dia kan juara 1 OSK Geografi tuh. Tapi ternyata yang lolos itu Ferbilia di peringkat 9. Keren banget gak sih? Tahun lalu cuma 1 yang lolos Geografi tapi tahun ini bisa 2. Setelah 10 orang finalis Geografi dibacakan, sekarang giliran Kebumian. Semua nama yang dibacakan terdengar asing bagiku. Tibalah di nama ke-4 yang disebut. Namanya sangat familiar. Benar-benar familiar. Begitu mendengar nama itu disebut, aku hanya bisa melongo kaget. Yes, it was me. Aku lolos ke final! I can't believe it. Aku senang sekaligus bingung. Di babak final itu sistemnya gimana? Praktikum atau apa? Setelah semi final tadi, aku ngerasa kayak pelajaran yang udah aku pelajarin itu menguap semua. Tapi ternyata, aku nggak sendiri. Adinda juga lolos ke final untuk bidang Kebumian.

Setelah semua diumumkan, finalis langsung menuju ke ruang tes babak final. Di babak final untuk Kebumian, kita dibagi menjadi tiga kelompok. Aku, karena peringkat empat, masuk ke kelompok dua. Tiga orang pertama masuk ke suatu ruangan selama sepuluh menit. Kemudian diajak ke lantai dua untuk mengerjakan tes. Aku mikirnya kalau tes kali ini berhubungan sama mineral dan batuan. Jadi selama nunggu giliran, aku baca-baca lagi ciri-ciri mineral sama batuan. Kelompok dua pun dipanggil. Sebelum masuk, kita dikasi instruksi dulu. Di dalam bakal ada tiga tempat duduk dengan tiga kotak di depannya. Kita akan bergantian mengamati isi ketiga kotak itu dan dikasi satu lembar kertas kosong, bebas mau ditulisin apapun.

Posisi pertama, aku dapat kotak yang isinya mineral yang sudah isi label nama. Jadi aku tulis nama dan ciri-cirinya. Waktu tiga menit serasa cuma sepuluh detik. Cepet banget. Pindah ke posisi kedua, isinya batuan tanpa label nama. Aku, yang selama ini cuma belajar dari buku dan gambar-gambar di internet kebingungan banget waktu ngeliat wujud asli dari batuan sama mineral. Enggak sejelas di buku. Jadi aku tulis aja ciri-cirinya sejelas mungkin. Urusan nama, bisa dipikirin belakang. Posisi ketiga, mineral tanpa label nama. Semuanya mirip! Aku ngelakuin yang aku lakuin tadi. Nyatet semua ciri-ciri di kertas yang udah hampir penuh. Ralat, sudah sangat penuh. Setelah sepuluh menit berlalu, kelompok dua diajak ke lantai dua untuk mengerjakan soal. Ruangan tesnya kecil. Begitu sampai sana, aku dikasi kertas soal dan soalnya... wow. Jadi ada 3 tabel kalau nggak salah. Tiap tabel itu udah isi nama mineral. Ada kuarsa, asbes, sama lagi satu aku lupa. Mineral-mineral itu harus kita tulis ciri-cirinya. Parameternya banyak banget. Semua sifat fisik mineral, berat jenis, apalagi ya, pokoknya banyak banget lah. Soal yang lain, disuruh ngejelasin tentang bahan galian dan aku nggak tau. Yang aku tau, galian C, pasir. Udah itu aja. Tapi di akhir, tetep keisi full lembar jawabanku, hahaha.

Setelah babak final selesai, kita kembali lagi ke ruang pembukaan yang nanti bakal jadi tempat penutupan juga. Dan hal yang aku benci, harus dilalui lagi. Menunggu. Sambil nunggu, aku sama yang lain pada cerita-cerita, foto-foto, dan melakukan hal lain yang nggak terlalu penting. Ketika panitia mulai ngecek mic dan proyektor, kita mulai deg-degan. Harap harap cemas. Setelah semua siap, penutupan pun dimulai. Sambutan, laporan, dan sejenisnya sudah berlalu. Sekarang saat yang paling ditunggu-tunggu. Pengumuman juara. Mulai lagi muncul perasaan pingin menang tapi takut nggak sesuai ekspektasi. Seperti biasa, pengumuman dimulai dari Geografi. Kalau tadi diumumin dari peringkat 1, sekarang di balik. Dari harapan 2 (kayaknya, aku lupa.) sampai juara 1. Ferbilia sama Dika nggak disebut-sebut. Tapi akhirnya, nama Dika disebut sebagai juara 2. Sekali lagi, aku seneng banget. Akhirnya tahun ini pulang ke Karangasem bawa piala. Ferbilia nggak dapet juara, tapi dia berhasil menjadi finalis. Selanjutnya Kebumian. Yang awalnya gak mau berharap, sekarang berubah jadi, "Harapan dua aja nggak apa-apa deh." Memang banyak maunya ya. Harapan dua, lewat. Harapan satu, lewat. Pupus sudah harapan ini. Tapi ternyata, namaku disebut sebagai juara 3. Kaget, nggak nyangka. Lalu aku maju, nerima hadiah, tebar senyuman ke kamera hehehe.

Kebumian & Geografi SMAN 2 Amlapura :)

OSP - 8-9 Mei 2017
Setelah GC VIII, aku cuma punya waktu 2 hari untuk persiapan OSP. Rasanya masih kurang banget. Masih banyak materi yang belum aku pelajarin dan bahkan ada yang belum kesentuh sama sekali. Tanggal 8 pagi, aku dan enam belas orang lainnya sudah kumpul di sekolah. Kita bakal berangkat barengan dan dibagi jadi tiga mobil. Aku semobil sama Yuni dan lupa siapa lagi. Kita berangkat ke "Hotel" Wisata Indah paling terakhir dan sampai paling terakhir juga. Sampai sana, kita tu pada bengong nungguin pembagian kamar yang gak selesai-selesai. Kata pembina dari sekolah, satu kamar itu bertujuh :) Kebayang gak sih gimana caranya tidur bertujuh. Tadinya aku sekamar sama beberapa temen yang nggak terlalu deket dan digabung sama anak dari sekolah lain. Otomatis aku nolak dong. Karena aku harus sama Yuni, titik. Hahaha. Terus akhirnya Sri mau tukeran sama aku. Akhirnya aku tetep sekamar sama Yuni dan lima orang lainnya.

Jam menunjukkan pukul 13.00. Technical meeting akan diadakan jam 16.00. Masih ada tiga jam lagi. Yang lain pada tidur siang sedangkan aku tuh orangnya enggak bisa tidur siang. Jadi aku sama Yuni belajar gitu, deh. Belajar H-1 itu rasanya kayak dikejar-kejar sesuatu. Deg-degan gitu bawaannya, entah kenapa. Jam 15.00, yang lain pada mulai siap-siap TM. Rempong banget. Namanya juga kumpulan wanita. Apalagi air di kamar mandinya itu hitam dan keruh sedangkan air di wastafel kuning. Kebayang gak gimana rempongnya mau mandi aja lol. Nentuin urutan mandinya juga ribet banget. Awalnya dari kecil ke besar. Terus dari besar ke kecil. Akhirnya diputuskan dari kecil ke besar. Seharusnya kan Ari (kelas 11) yang pertama. Tapi ternyata, Karuni (kelas 12) lebih muda daripada Ari. Jadinya Karuni duluan. Karena enggak mau ribet-ribet, aku sama Yuni ngalah dan kita keluar dari urutan. Kita milih jadi dua orang terakhir aja. Sebenernya memang kita dua orang yang paling gede sih umurnya wkwkw.

Ternyata siap-siap satu jam itu enggak cukup. Akhirnya aku sama Yuni selesai sekitar jam 16.30 dan kita berdua langsung ke tempat TM. Ternyata udah rame banget. Bener-bener full dan kita enggak dapet tempat duduk. Akhirnya kita duduk mepet-mepetan deh sama temen-temen satu sekolah. Awalnya aku kira aku udah telat. Ternyata TMnya belum mulai. Ruangannya mulai panas. Ya jelas. Orangnya banyak banget tapi tempatnya enggak terlalu besar. AC nggak berasa AC. Akhirnya sekitar jam 18.00 TM dimulai. Isinya sih informasi-informasi yang udah sering aku baca dan denger sih. Tentang jumlah soal, sistem penilaian, dan sebagainya. Selesai TM, kita semua balik ke kamar masing-masing. Oh iya, sekolahku itu dapat kamar yang di belakang. Yang katanya lebih bagus dari yang di depan. Tapi tetap aja sih enggak merepresentasikan hotel dengan baik.

OSP 2017. Pengerjaan tes enggak dilakukan di hotel, tapi di SMAN 5 Denpasar. Untuk menuju ke tempat tes, panitia sudah nyiapin banyak bus untuk peserta OSP. Syaratnya, kita harus sudah siap dan naik ke bus pagi-pagi. Ketegangan mulai terasa. Semalam aku tidur paling awal. Sudah bener-bener pasrah. Yuni? She didn't sleep. I'm not kidding. She. did. not. sleep. at. all. Ngeliat temen-temen yang pada semangat banget, aku ngerasa kalau aku ni gak ada apa-apanya sama sekali. Udah terlalu terlambat untuk mikirin itu. Beberapa jam lagi aku bakal dihadepin sama soal-soal OSP Kebumian. Begitu sampai di SMA 5, temen-temenku pada sembahyang. Terus kita keliling sekolah yang kata(Diva)nya terluas kedua di Bali setelah Smasta. Tesnya enggak mulai-mulai! Enggak enak tau digantungin gini, wkwkwk. Entah jam berapa, tes akhirnya di mulai.

Sebelum tes mulai, aku ngeliat daftar peserta yang ditempel di kaca. Enggak ada nama yang familiar. Soal pun dibagikan. Setelah doa, aku mulai ngeliat-liat soalnya dulu. Kali ini soalnya berwarna. Jadi gambar-gambar yang ada keliatan jelas. Enggak kayak waktu OSK. Soal OSP Kebumian terdiri dari dua jenis soal, yaitu 50 soal pilihan ganda dan 5 soal esai. Pertama, aku ngerjain soal esai. Dari yang aku liat, soalnya itu kayak bisa diselesaiin secara Matematika dan Fisika gitu. Jadi, empat dari lima soal esai aku jawab pakai rumus-rumus Fisika sederhana tapi dengan pemikiran yang panjang dulu sebelum nentuin rumus apa yang dipakai. Satu soal esai yang bener-bener clueless itu tentang kecepatan angin siklon di empat titik yang sudah ditentukan. Aku bener-bener enggak tau gimana cara nyelesaiinnya. Tapi aku tetep isi sebisaku. Jadi, lima soal esai yang ada kejawab dengan jawaban yang sampai sekarang aku enggak tau itu bener atau enggak. Setelah esai selesai, aku beralih ke pilihan ganda. Di bagian ini juga enggak semua aku jawab. Aku lupa berapa jumlah pastinya. Kayaknya enggak sampai 25 soal deh aku jawab. Tapi enggak tau juga sih. Udah lupa. Waktu pengerjaan yang diberikan adalah selama 2,5 jam. Awalnya aku kira itu bakal lama banget. Tapi ternyata enggak. Waktunya lumayan cukup buat aku untuk ngerjain soal-soal yang aku bisa. Setelah tes, ada bagian yang paling menyenangkan; pembagian uang saku, hehehe.

Begitu semua selesai, kita semua balik lagi ke Karangasem.

----------------------------------

Jadi, ini bagian akhir dari entri ini. Sudah selesai? Tentu saja belum. Kelanjutannya gimana? Tunggu di entri selanjutnya, ya :D

1 comment:

  1. Bimbingan belajar dengan guru privat terbaik di Bandung! Klik Ruangles Bandung

    ReplyDelete